Info Unik : Seorang Ibu Bantai 5 Orang Anaknya!


Kasih ibu sepanjang jalan, begitulah pepatah lama mengatakan. Namun pepatah ini tidak berlaku bagi Siati Nduru, seorang ibu di Gunung Sitoli yang tega membantai kelima orang anaknya. 3 Tewas ditempat dan dua orang lainnya kritis. Motif pembantaian tersebut sepele, hanya karena sang ibu tidak setuju anak-anaknya dibawa merantau oleh sang suami. Sadis. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu tersebut.





Berikut berita lengkapnya dari sumber aslinya :




GUNUNG SITOLI---Siati Nduru, tersangka pembantai anaknya sendiri, kemarin (29/12), kembali ditemui wartawan Sumut Pos di tahanan Mapolres Nias. Wartawan Sumut Pos telah mempersiapkan banyak pertanyaan, mengapa dia tega membunuh darah dagingnya sendiri. Tapi jawaban yang muncul dari mulut Siati sangat mengejutkan. Dia mengaku, sama sekali tak menyesal telah menghabisi tiga nyawa anaknya, dan menyebabkan dua anaknya yang lain kritis. Bahkan, dengan santai dia mencerita cara pembantaian yang dilakukannya.

Bahkan, dia mengaku tak peduli dengan perbuatannya yang telah menghebohkan masyarakat Nias. Kepada wartawan koran ini dia berkali-kali menyatakan tidak menyesal telah membunuh tiga anaknya. Menurutnya, dia terlanjur sakit hati oleh ejekan anak-anaknya. Saat ditemui, awalnya Siati hanya diam saja, menolak memberikan jawaban apapun saat ditanya. Tapi setelah didesak, wanita yang saat itu memakai baju putih lusuh itu akhirnya mau bercerita.

Awal dari kejadian itu menurutnya, saat suaminya, Talizanolo Nduru, memberitahukan niatnya untuk merantau keluar Nias, agar kondisi ekonomi keluarga mereka membaik. Namun dia terkejut karena seluruh anaknya diajak merantau oleh suaminya, sementara Siati ditinggal. Siati mengaku sangat tidak setuju dengan rencana suaminya tersebut. Pertengkaranpun terjadi. Dia mengaku bertambah emosi saat anak-anaknya terutama Fonaha Nduru (8), setiap saat selalu mengejeknya dengan sebutan orang gila. "Saya sakit hati, karena terus dikatai (diejek) sebagai orang gila sama anak-anak, terutama si Fonaha Nduru (korban tewas, Red). "Saya kemudian berpikir, lebih baik saya bunuh saja mereka semua," katanya dalam bahasa Nias.

Siang hari sebelum pembantaian itu terjadi, Siati mengaku hatinya bertambah kalut dan emosi. Apalagi si Fonaha terus-menerus mengajari adik-adiknya agar mengejek ibu mereka sendiri. Mulai saat itu, akunya, ada bisikan kuat dalam hatinya agar dia membunuh semua anak-anaknya. "Bunuh saja anak-anakmu, karena mereka mau meninggalkanmu. Begitu kata hati saya," ujarnya.

Saat malam tiba, Siati tak tidur. Dia membiarkan anak-anaknya tidur duluan. Dia mengaku, bisikan dari hatinya agar dia membunuh semua anak-anaknya semakin kuat. Kemudian, Sabtu dini hari, pukul 02.00 WIB, dia mengaku spontan mengambil parang dan langsung membantai anak-anaknya yang sedang tertidur.

Mengapa si bungsu, Kafina (1,5), tidak dibunuh. "Saya kasihan sama si kecil, makanya saya tidak mau membunuhnya yang saat itu lagi tidur pulas di ayunan," jawabnya. Siati kemudian menceritakan cara pembantaian yang dilakukannya. "Saya tidak menyesal. Saya membunuh mereka satu persatu, yang pertama saya bacokin tubuhnya adalah si Sulung, Ferina (10), baru si Fonaha (8), terus si Ferida (7), baru si Folo'o (5) dan terakhir si Ferius (3)," katanya dingin, tanpa ada rasa menyesal (ini nama-nama yang benar, sekaligus meralat nama-nama pada edisi sebelumnya, Red).

Wartawan Sumut Pos kemudian mengulang sekali lagi, apakah dia tidak menyesal telah membantai darah dagingnya sendiri" Siati dengan wajah tanpa ekspresi malah menjawab, "Bagaimana itu?". Wartawan koran ini lalu balik menjawab, "Apanya bagaimana?". Tapi Siati tak memberikan jawaban dan malah menatap tajam wartawan koran ini. Kemudian dia memalingkan wajahnya dan bangkit membelakangi wartawan Sumut Pos.

Diberitahukan kepadanya bahwa ada dua anaknya si Ferida (7) dan Folo'o (5), saat ini masih dirawat intensif di RSUD Gunung Sitoli. Siati kemudian bertanya, "Apakah bapaknya (suaminya, Red) ada di situ?". Lalu terdiam lagi, seakan tak mau tahu kondisi dua anaknya yang sedang kritis. Setelah terdiam beberapa saat, Siati kemudian bertanya. Dia bilang, dia sama sekali tidak pernah bersekolah, jadi dia tidak tahu berapa hukuman atas perbuatannya. "Apakah hukuman saya lama di sini (penjara, Red)?," tanyanya. Tapi tak lama berselang, seorang penjaga tahanan Polres Nias yang kebetulan berdiri tak jauh dari sel berkata, "Ibu tak akan lama di sini".

Usai mewawancarai tersangka Siati, wartawan Sumut Pos kemudian meluncur ke RSUD Gunung Sitoli, untuk melihat kondisi Ferida (7) dan Folo'o (5). Begitu sampai wartawan koran ini langsung menuju ruang perawatan keduanya. Saat itu, tampak Folo`o sedang duduk di atas ranjang, tepat di samping ayahnya, Talizanolo Nduru. Melihat kedatangan wartawan koran ini, Folo`o menangis. Setelah ditenangkan oleh ayahnya, sesekali Folo`o melihat ke arah wartawan koran ini dengan rasa penasaran.

Kepada wartawan koran ini, Talizanolo kembali menceritakan pembantaian anak-anaknya oleh isterinya sendiri. Dia mengulang cerita sebelumnya, bahwa pembunuhan itu terjadi saat dia berada di desa lain untuk mengikuti acara Natal. Bagaimana dia tahu bahwa pelakunya adala isterinya sendiri.

"Saat saya pulang dan melihat anak-anak telah bersimbah darah, isteri saya bilang karena baru didatangi perampok. Setelah kepala desa dan kepala dusun datang, saya tak dikasih masuk rumah, kepala desa dan kepala dusun yang masuk rumah dan menanyai isteri saya. Karena mendengar suara saya, Folo'o kemudian merangkak keluar rumah, menuju saya yang ada di teras, saat itu tubuhnya penuh luka menganga dan bajunya semua berlumuran darah. Kemudian, saat ditanyai kepala desa, isteri saya mengaku telah membunuh anak-anaknya," ujar Talizanolo terlihat sedih.

Berbeda dengan Folo`o Nduru (5) yang bisa duduk saat di samping ayahnya, Talizanolo Nduru. Ferida Nduru (7) sama sekali tidak bisa duduk, posisi miring saja dia terlihat sangat kesulitan. Menurut Talizanolo, kondisi Ferida yang paling dikhawatirkan dokter. Pasalnya, luka di bagian lehernya sangat dalam. "Saat dokter membuka perbannya tadi pagi, keluar darah segar," tutur Talizanolo.

Wartawan Sumut Pos kemarin berupaya mewawancarai dokter yang merawat kedua bocah itu, namun gagal. Pasalnya, dokter yang bersangkutan menurut perawat yang bernama Amoni Zega, baru saja pulang ke Jogjakarta. Amoni Zega menuturkan, melihat kondisi kedua korban yang sangat parah, dokter menyarankan agar keduanya dirujuk ke salah satu rumah sakit di Medan. Namun hal itu terkendala. Pasalnya, hanya Ferida Nduru yang terdaftar sebagai peserta Jamkesmas. Sedangkan Folo`o Nduru, kartu Jamkesmasnya sedang diusahakan oleh pihak Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Gunung Sitoli.

Menurut Amoni, kondisi ekonomi keluarga korban sangat memprihatinkan. "Rumah sakit sudah mencoba untuk membantu, seperti susu kedua anak itu dikondisikan dari bagian gizi rumah sakit, juga makanan ayahnya dan sanak saudaranya yang sedang menjaga kedua korban, sehingga keluarga ini sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak untuk meringankan penderitaan mereka," katanya. (mag-11)

sumber : http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=55784

{ 1 komentar... Views All / Post Comment! }

mufied said...

sungguh tragis sob !!!!!

moga di tahun 2010 tidak ada kasus seperti ini lagi !!!
CINTA KEADILAN !!!

Post a Comment

Silahkan berkomentar, komentar Anda sangat kami hargai